Kamis, 29 Oktober 2015

Secangkir Teh Dingin

Kembali aku menatap layar komputer moderen ini.
Sudah lama jari jemari ini tak menari-nari indah.
Mungkin ada rindu yang terbesit hingga aku membuka berkas-berkas lama ini.
Mungkin akan aku tuangkan kembali secangkir teh hangat untuk kamu, kamu yang kini mulai menjadi resah gelisahku.

by:author

Terimakasih, untuk dua cangkir teh ini.
Aku kehausan, maka kamu datang di saat yang tepat.
Teh dingin ini sangat menyegarkan tenggorokanku.
Mengalir hingga kulit-kulit ini ikut mendingin karena esnya.

Yang jelas, aku tak pernah tahu sampai seberapa jauh kita akan seperti ini
Yang jelas, akan ada tembok antara aku dan kamu
Yang jelas, waktu salah menemukanmu
Yang jelas, kamu tak pernah salah, karena keadaan yang membuat serumit ini

Jika aku punya lampu Aladin,
Aku mau kita ulang semua.
Akan aku katakan pada waktu,
"Jangan temukan dia sekarang"

Bukankah, mengelak alur itu menyakitkan?
Mungkin ada alasan mengapa aku tak bisa menolak alur ini.
Mungkin butuh penjelasan khusus bagiku tuk mengerti

Pernah aku tulis resah ini
Tentang bagaimana aku harus mengerti semuanya sendiri
Bagaimana aku harus berlari menjauh tanpa siapapun disampingku

Namun, logika dan rasa tak pernah sejalan
Logika ini memaksa untuk pergi
Sementara, rasa ini masih ingin bertahan,
Iya, bertahan sendiri dengan status yang tak pasti.

by : author

Andai, andai saja menjauh sesingkat matahari terbit. 
Kaki ini akan lebih mudah melangkah darimu
Bila ada seseorang yang mengerti bagaimana menjahu, 
Coba ajarkan itu padaku. 
Ajari aku menjauh dari resah ini.

Mungkin, aku bukan dia, dia yang kamu harapkan
Mungkin, aku salah datang di hidupmu
Mungkin, keadaan yang memaksa 
Mungkin, tak ada harap yang bisa ku pertahankan

Doakan saja aku, 
Doakan agar resah ini segera berlalu
Doakan agar badai ini dapat ku lewati
Dan ku doakan kamu, agar mampu melewati hal-hal indah dengannya.

Tertulis dengan manis, di kota yang manis, Surakarta.
Dari yang sedang belajar menulis sajak, Neptunus.

Kamis, 02 Juli 2015

Untuk yang Kini Pergi dan Hilang bersama Angin

Seperti yang sering aku katakan padamu.
"Aku bingung harus katakan apa."
Kamu mungkin tahu apa yg tengah terjadi
Kamu juga mungkin mengerti.

Bagaimana bisa seseorang mempertahankan
apa yg tak mungkin bisa dipertahankan.
Harusnya kamu tahu itu juga.
Dan kalaupun semua yg kusimpan menyeruak
Berjanjilah padaku,
Jangan menjauh dan diam akan sebab ini.

Ada banyak kesempatan untukku
Tapi aku hanya mampu berdiam diri
Melihatmu, melihatnya, melihat mereka.
Lalu pertanyaan itu muncul kembali,
Aku bisa apa?
Ketika orang yang selama ini kita harapkan muncul
namun kita berbeda jalan.

Hari ini, semuanya sudah tergambar jelas di mataku
Aku, kamu, dia dan mereka satu sunggingan bibir merekah
Aku tak bisa katakan apa yang ingin ku katakan
Aku terlalu pengecut jika aku harus mengutarakan ini

Aku hanya bisa tersenyum memandangimu dari jauh
Kita akan menjauh perlahan-lahan
Mungkin akan ada sosok lain yang baiknya sama sepertimu
Aku mungkin akan ikut tersenyum dari jauh

Tadinya, aku aku tak pernah mengira akan sejauh ini
Akan berujung diam kau dan aku
Aku menyayangimu, sebagaimana hati ini kerap kali meronta bila didekatmu
Aku akan simpan sendiri, jika ada rindu yang terselip diantara suaramu

Meskipun nanti kamu bersama seseorang yang baiknya seperti kamu................
Meskipun hanya ada rindu yang mengesap perlahan-lahan sendiri.......