kamu ingin membacanya?
Bacalah sampai selesai,
siapa tahu kamu menemukan jawaban untuk dirimu sendiri.
Bukankah hati manusia tidak bisa dipaksakan?
Manusia memang kadang lupa siapa dirinya,
hingga lupa siapa yang tulus ada didekatnya.
Sampai di garis sesal pada akhirnya,
tahu, bahwa yang tulus telah lelah untuknya.
Bukan bermaksud untuk membela si tulus,
hanya saja kadang manusia buta akan hal-hal kecil.
Si tulus ini sangat menghargai manusia.
Dimana manusia itu ingin sendiri,
dia akan menjauh perlahan-lahan.
Meski menjauh bukan hal yang sepele,
meski itu menyayat hati, tapi si tulus lakukan.
Manusia hanya berpikir untuk dirinya sendiri,
melakukan hal yang dia senangi tanpa menghiraukan kehadiran si tulus didekatnya.
Si tulus tak pernah menginginkan apa-apa,
dia hanya butuh waktu dari manusia untuknya.
waktu yang selalu dia harap-harapkan untuk dihabiskan bersama,
walaupun itu sebentar saja.
Hingga pada saatnya, si tulus mulai kelelahan,
dia berhenti untuk memahami manusia.
Berhenti untuk segalanya dari manusia,
termasuk berhenti untuk mencintai manusia.
Ada perasaan berat untuk ini,
tapi tulus sudah berada di garis lelah.
Bertahan juga tak ada artinya bagi tulus.
apalagi saling mempertahankan, dimana bagian manusia?
Si tulus perlahan menghilang dan berjalan menjauhi manusia.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Manusia?
Hari-harinya kini sendiri,
tanpa hadirnya tulus didekatnya.
Dia mulai mencari keberadaan tulus.
sampai kakinya tak bisa berjalan untuk menemukan tulus,
Berhari-hari ia mencari si tulus,
dalam hatinya, ia menyesal.
Ia telah mengabaikan satu-satunya hal yang paling berharga didekatnya.
Sampai hal itu lelah, dia masih mengabaikannya.
Dan, sekarang, tulus sudah benar-benar menghilang dari hidupnya.
Entah kemana lagi manusia harus mencarinya.
Begitu seteusnya, tulus semakin menjauh, jauh, jauh, dah jauh dari kisah manusia.
Manusia, terus mencari tulus itu dimanapun ia berada,
sampai nanti, sampai dia juga ada di garis lelah yang sama dengan tulus,
kala itu.