Sabtu, 04 Oktober 2014

Jarak?


"So you brought out the best of me 
A part of me I've never seen
You took my soul and wiped it clean
Our love was made for movie screens"

Aku tersadar kembali kala ku dengarkan alunan lagu nan lembut ini.
Kemudian aku melihat kenyataan, bahwa aku dan kamu terpisah oleh jarak dan waktu.
kembali aku dengarkan lagu ini, sesekali melirik ponsel, dengan harapan ada namamu tertera disana.

"Kita sadar ingin bersama 
Tapi tak bisa apa-apa
Kita sadar ingin bersama
Tapi tak bisa apa-apa 
Terasa lengkap bila kita berdua 
Terasa sedih bila kita di rak berbeda"

selesai. playlist mengganti lagu secara otomatis.
ah, mungkin aku kolektor lagu-lagu sendu dan galau.
tapi, entah mengapa dengan aku mendengarkan lagu ini, jiwa dan rasaku merasa lebih dekat satu jengkal dengan kamu. 

Aku merindumu. Tiap detikku hanya selalu ingin di dekatmu, meskipun kenyataan memisahkan kita. meskipun kita berada di langit yang sama, namun memandangmu saja aku tak mampu. 
Bagaimana bisa seseorang dapat bertahan seperti ini?

"Can marry your daughter
And make her my wife
I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
And give her the best of me 'til the day that I die, yeah"

Kamu, aku, dan jarak. Bukan hal yang mudah bila kita telaah satu persatu.
Kamu, aku, dan percaya. Satu hal yang selalu jadi penentram kala gundah datang.
Kamu. aku, dan kita. Bukan soal cinta dan sayang, tapi bagaimana kamu tunjukkan, bagaimana kamu buktikan padaku, bahwa kenyataannya benar adanya dan bukan omong kosong. 

"Kita harus bisa, apapun rintangan yang akan kita hadapi ;)"

Waktu memisahkan segalanya. 
Aku dan kamu, manusia yang saling membutuhkan. 
Terimakasih, untuk hari-hari yang teramat indah.
Terimakasih untuk waktu yang selalu kamu luangkan saat kita dekat.
Terimakasih untuk kamu, kamu dengan candaan yang terkadang membuatku tertawa tiada henti.

Satu hal yang mungkin semua orang rasakan kala jauh dari yang dicinta, Kangen. 
Begitu pula nanti aku yang entah kapan masanya, berada pada fase-fase itu.

Love is learning.
It doesnt matter how do you love me. 
But sometimes you just hold my hand, and make me believe in you.

With Love To You, Mr. A.  

Sabtu, 22 Maret 2014

ini aku, kamu bagaimana?

Selamat malam neptunus!
lama gak ngeblog, bikin kangen. hehe

rasanya sedang berkecamuk di angan-angan.
tidak terpikirkan rasanya bagaimana.

sadar atau tidak,
terkadang perasaan kecewa kerap kali meruak dalam hati.
terkadang apa yang terpikiran tak sejalan dengan yang lain.
kadang lelah mulai menggerogoti perlahan-lahan.
ingin berkeluh kesah, tapi kepada siapa?


















tau rasanya kecewa?
tiap orang pasti pernah merasakan itu.
termasuk yg satu ini.

iya, ini pengalaman pribadi kok,
hanya ingin berbagi, tak masalah bukan?

kadang, rasanya kaya di bom.
di banting-banting.
tapi, kita gak bisa marah seenaknya.
gakbisa. alih-alih marah, justru kena marah. sedih:(

dulu, jaman-jaman masih SMP, sering curang, sering banget.
bahkan kebawa sampai kelas 10 SMA,
masih sering tanya-tanya kalo lagi ujian.
rasanya seneng, dapet bocoran jawaban, nilai kita jadi tinggi. seneng banget. jadi gak malu nunjukin ke mamah.

sampai kenaikan kelas, masih aja begitu. sampai puas.
setelah lihat hasilnya. jauh dari dugaan.
nilai-nilaiku jatuh semua.

barulah muncul rasa menyesal itu.
ada rasa sesak, ketika jawaban kita yang sudah benar dan seharusnya terisikan dalam lembar ujian menjadi salah karena yg terisikan adalah jawaban teman. sesal.

ada rasa malu juga, mengapa aku yg bertanya pada mereka tetapi tidak mendapatkan nilai yang tinggi? mengapa justru yang bertanya padaku nilainya jauh lebih dariku?

aku malu. malu pada yang jujur. mereka berusaha mati-matian, belajar sampai larut malam. sedangkan aku? aku yg belajar malas-malasan, hanya mengandalkan teman.

kadang ngerasa gak enak sama yg lebih pintar, aku mendapatkan nilai lebih tinggi dari dia, dia yg belajar mati-matian hanya mendapat nilai tujuh, sedangkan aku yg malas-malasan bisa melampauinya.

ada dua temanku yg bercerita padaku tentang keluh kesah mereka pada "pelaku" itu. mereka menceritakan bagaimana perasaan anak-anak yg pintar tentang kegiatan curang itu,

kala itu mereka memang sedang berkumpul dan membahas sesuatu, lalu mereka saling bercerita, salah satu cerita mereka ya tentang itu, mereka mengaku merasa rugi akibat ulah itu,

kemudian aku tertegun. aku merasa mendapatkan cambukan dari apa yg telah aku lakukan.
malu mendengarnya. aku seperti seorang pengecut yg selalu sembunyi. aku tak pernah percaya diri.

perlahan, aku mulai bisa melawan ketergantungan itu, aku memulainya dari 0. hingga saat ini masih bertahap.

kalo musimnya ujian begini, aku lebih kecewa lagi dengan  pengawasnya.
bapak, ibu guru. mengapa bapak, ibu guru hanya membagi lembar jawab, soal, lalu duduk saja? apa bapak, ibu guru tidak memeperhatikan murid-muridnya kala ujian? siapa yg benar-benar mengerjakan dan siapa yg benar-benar berbuat curang.

jujur saja, aku selalu menyayangkan masalah ini,
ingin mengadu, namun tak enak hati,
pendam saja sedalam-dalamnya. meski kadang selalu muncul kembali.

ah, bagaimanan dunia kedepannya?
Tuhan memang menyayangiku, buktinya Tuhan menyadarkan aku dari yg bergantung sampai bisa sendiri. sama seperti kita sedang belajar melangkah,

dari yg masih di titah, sampai bisa melangkah sendiri dengan benar.

dunia itu indah, apalagi masa-masa remaja seperti ini.
jangan sia-siakan masamu sekarang,
waktumu tak banyak, masa ini tak akan terulang lagi nanti.

apa yg akan kau ajarkan pada anak-anakmu nanti jika kau masih bergantung?
apa kau tak malu jika seketika anakmu bertanya "ayah, ibu, apa pernah ayah dan ibu mencontek saat ujian?"
lalu, kau diam sejenak. apa yg akan kau jawab dari pertanyaan anakmu itu?
apa kau akan berbohong?
pikirkan lagi, teman.

aku tak mau jika kau mendapatkan kesulitan saat-saat kedepan nanti, apalagi saat di perguruan tinggi.
pikiran mahasiswa dan anak SMA berbeda jauh.
jika sekarang mengeluh, nanti akan lebih mengeluh ketika kau masih bergantung, karena perguruan tinggi itu lebih berat.

coba banyangkan, jika kita memulai dari sekarang untuk tidak bergantung, apa yg akan kita dapatkan pada masa akan datang?

percaya atau tidak, kita pasti akan mendapatkan kemudahan untuk menjalan kehidupan, pasti akan ada banyak nikmat yg kita rasakan.

buat apa yg kita usahakan itu berkah.

Bismillahirrahmanirrahim.......................................


gdnght^^

Minggu, 02 Februari 2014

Aku Temukan Kamu

                Hai, malam.
                Kali ini aku ingin bercerita tentang sebuah penantian yang mungkin cukup berbuah manis. Ya, mungkin ini konyol, mungkin juga ini aneh, atau apa, aku juga tak tahu.
                Dulu, masaku, putih-biru. Aku punya banyak hal yang memang indah awalnya, namun, selalu berakhir pahit. Entah, siapa yang salah, namun, mereka berkata aku yang salah.
               Berbeda cerita ketika aku mengenal seseorang itu, aku suka dia, iya aku suka. Kemudian kami semakin dekat, dekat, dan dekat. Namun, menggantung. Aku menunggunya, menunggu untuk hari-hari yang sia-sia. Hingga akhir masaku, aku justru mendapatkan cambukan dari orang dalam sendiri, yang jelas-jelas sudah mengetahui aku menyukainya.

                Tak apa, aku memaafkan itu, aku berusaha diam. Dari kalian, dari semua orang, hingga aku bertemu seseorang lain dalam hariku.
               Yang kurasa saat itu, aku hanya ingin melupakan dia. Namun, aku terjebak kembali dalam rasa yang merumitkan lagi. Aku tak mampu melepaskannya.
                Dia cuek, jutek, berandal, tapi dia malaikatku, dia penghapus luka. Sempat kami menyatu, namun kesalahannya terulang lagi. Entah dengan alasan apalagi.
                Berat hati, aku mulai melangkah menjauhinya. Perlahan tapi pasti, aku mulai melangkah mundur, jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh. Namun sayang, aku belum mampu melepas benang kenangan yang teruntai.
                Aku muak dengannya, muak dengan tingkahnya, aku mulai membencinya, mengatainya, hingga aku tak ingin bertemu dengannya kembali.
                Seragam berganti, masa putih-abu-abuku mulai terlihat. Iya, aku masih melihatnya berada di sekeliling duniaku.
                Aku mengenal seniorku, dia baik, seperti seorang kakak dan adik. Entah, rasa dari mana datangnya, perlahan perasaan itu semakin nyata mengahadangku. Aku takut ini hanya cinta sepihak.
                Disisi lain, seniorku sudah bersama dengan orang lain. Aku masih mampu tertawa menanggapi curhatannya tentang perempuan itu. meski kadang meringis dengan sakit.
                Hingga aku bertemu dengan sosok yang mirip dengan malaikat baik itu. aku jatuh cinta lagi. Bahagia, namun berakhir pahit kembali.
                Aku mencoba menghubungi malaikat baik itu. kami dekat kembali. Sampai akhirnya dia memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali.
                Ya, aku jawab iya. Aku mau jadi kekasihnya lagi asalkan dia sudah benar-benar yakin pada cinta ini.
                Hariku berwarna kembali, seiring berjalannya waktu, aku masih kerap bercerita tentang seniorku. Awalnya ku anggap ini cerita biasa. Namun, lambat laun aku menyadari, laki-laki juga bisa cemburu.
                Aku sadar, cinta yang berawal dari main-main akan berjalan dengan main-main juga. Yang namanya cinta juga gak melulu lancar, kadang banyak berantemnya.
                Aku baru sadar, seberapa besarnya malaikat baik menjaga perasaanku. Pertama kali dia memutuskan meninggalkanku, itu hanya caranya untuk menjaga perasaanku. Dia harus memenuhi permintaan orang lain, dia mengerti mendua bukan cara yang baik.
                Aku baru sadar, kehidupan intinya, aku terenyuh mendengar tiap ceritanya. Aku terlalu jahat untuk memakinya. Aku ingin selalu menjaganya. Mendekap di tiap dinginnya.
                Aku baru sadar, dia sempurna diantara kekurangannya. aku suka sifatnya, penyayang. Aku suka sifatnya yang mandiri. Suka menabung.
                Aku memilihnya, karena aku merasa beruntung berdampingan di sampingnya. Aku memilihnya karena laki-laki lain tidak seperti dia.
                Kami sering berangan-angan, tentang masa depan kami. Aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami, dan dia akan jadi ayah yang baik, yang mendidik anaknya dengan benar. 

                Cinta, tak pernah ada habisnya.
                Cinta, datangpun tiba-tiba.
                Cinta, bukan main-main.
                Cinta...........

                Aku mencintainya, laki-laki yang kudambakan, Agin.