Kak Yuki? Sedang apa dia disini? Mengagetkanku saja.
“hey!”
Aku hanya
tersenyum membalasnya. Ku kira itu... Angga. Ternyata Kak Yuki.
“sedang
apa malam-malam begini disini? Sendirian lagi.” Ceroscosnya sambil duduk
disampingku sekarang.
“tidak,
aku hanya ingin menikmati langit malam ini. Kakak sendiri sedang apa
malam-malam begini berkeliaran?” tanyaku padanya.
“aku
mencarimu.” Kata-kata itu terucap dari mulutnya langsung tanpa ada beban
sekalipun. Aku menoleh padanya dengan tatapan bertanya-tanya.
“aku tadinya
hendak pergi ke rumahmu. Dan sebelum aku sampai, aku melihatmu sedang duduk
disini, akhirnya aku putuskan untuk menghampirimu disini.”
“memangnya
ada perlu apa?” entah tiap kali berada di samping Kak Yuki aku merasa sedang
berada di samping kakakku sendiri.
Kami memang
akrab dari kecil. rumah kami juga dekat, berjarak antara 3-4 rumah. Kak Yuki
adalah teman kecilku dahulu. Dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri.
Sekolah
kami juga selalu sama. Dari TK hingga SMA sekarang ini. Dia kini duduk di bangku
kelas 12 SMA dan aku duduk di kelas 10 SMA. Terkadang kami sering menghabiskan
waktu bersama.
Semakin
hari waktu semakin berkurang, dan waktu mengurangi kebersamaan kami. Di tahun
terakhir dia SMA , semakin sibuk jadwalnya. Keperluan-keperluan mempersiapkan
Perguruan Tinggi sudah mulai dia lakukan.
Aku tersenyum
dan menerimanya.
“duuh,
lahap bener makannya! Tuh, sampai belepotan!” refleks tangannya membersihkan es
krim yang menempel di sekitar mulutku.
Aku hanya
tertawa membalasnya. Haha.
“hey,
aku merindukanmu bocah. Lama sekali kita tak pernah seperti ini.” Katanya sambil
mengacak-acak ujung rambutku.
Terkadang
aku tak sadar, ada desiran aneh dalam dadaku ketika ia memperlakukanku seperti
ini, ketika ia berbicara penuh sayang padaku. Tapi harus ku tepis jauh-jauh
perasaan aneh itu diantara kami. Karena aku tahu, aku menyayanginya hanya
sebatas kakak-adik, begitu juga dengannya.
“aku
juga merindukanmu, kakak kece.” Jawabku sekenanya.
Dia menoleh
padaku, “kece? Sejak kapan kamu memanggilku begitu?”
“sejak....
tadi! Hehe.” ejekku padanya.
Dia hanya
tertawa sambil mengacak poni depanku kembali. Ah, ku harap kelak jika ia sudah
menjadi mahasiswa, ia tidak melupakan semuanya, termasuk tidak melupakan aku,
yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Malam ini
aku habiskan penuh bersama Kak Yuki. Kebersamaan yang sangat kami rindukan.
Matahari
menampakkan sinarnya kembali. Aku menggeliat kecil di kasur empukku ini. Rasanya
malas sekali beranjak dari tempat empuk ini.
Aku berjalan
menuju kamar mandi masih dengan gentayangan. Semalam aku begadang dengan Kak
Yuki menonton film sampai jam 3 subuh tadi. Sial memang, aku hanya tidur dua
jam saja. Hoaam.
Akhirnya,
nyawaku telah terkumpul semua. Semangatku kembali membara. Tepat pukul setengah
7 aku mulai melangkahkan kakiku ini menuju sekolah.
Sambil ku
sunggingkan pelangi terbalikku pada lalu lalang orang sekitar.
Setibanya
di sekolahku, sebuah suara berat memanggilku.
“Kenza?”
Aku menoleh
pada sumber suara itu, dan tepat di depanku, sepasang mata itu mengarah padaku.
“di
panggil Bu Dera di ruangannya.” Ucapnya dingin.
Aku hanya
mengangguk mengerti dan segera melangkahkan kaki menuju ruang guru.
Dia kenapa?
Mengapa bicaranya dingin sekali tadi? Ah, mungkin sedang ada masalah. Tunggu,
sifatnya memang seperti itu, bukan? Sudahlah, tak perlu dipusingkan.
Sepagi ini
indah sekali rasanya, aku bertemu dengannya kembali. Dunia memang sulit di tebak, terkadang hal yang kita
harapkan tak urung datangm namun hal yang tak kita harapkan tiba-tiba saja
datang sendrinya.
continue




