Minggu, 23 Desember 2012

secret admirer/3 (cerbung)


Kak Yuki? Sedang apa dia disini? Mengagetkanku saja.

                “hey!”

                Aku hanya tersenyum membalasnya. Ku kira itu... Angga. Ternyata Kak Yuki.

                “sedang apa malam-malam begini disini? Sendirian lagi.” Ceroscosnya sambil duduk disampingku sekarang.
                “tidak, aku hanya ingin menikmati langit malam ini. Kakak sendiri sedang apa malam-malam begini berkeliaran?” tanyaku padanya.

                “aku mencarimu.” Kata-kata itu terucap dari mulutnya langsung tanpa ada beban sekalipun. Aku menoleh padanya dengan tatapan bertanya-tanya.

                “aku tadinya hendak pergi ke rumahmu. Dan sebelum aku sampai, aku melihatmu sedang duduk disini, akhirnya aku putuskan untuk menghampirimu disini.”

                “memangnya ada perlu apa?” entah tiap kali berada di samping Kak Yuki aku merasa sedang berada di samping kakakku sendiri.

                Kami memang akrab dari kecil. rumah kami juga dekat, berjarak antara 3-4 rumah. Kak Yuki adalah teman kecilku dahulu. Dia sudah ku anggap seperti kakakku sendiri.

                Sekolah kami juga selalu sama. Dari TK hingga SMA sekarang ini. Dia kini duduk di bangku kelas 12 SMA dan aku duduk di kelas 10 SMA. Terkadang kami sering menghabiskan waktu bersama.
                Semakin hari waktu semakin berkurang, dan waktu mengurangi kebersamaan kami. Di tahun terakhir dia SMA , semakin sibuk jadwalnya. Keperluan-keperluan mempersiapkan Perguruan Tinggi sudah mulai dia lakukan.

                “nih, aku bawakan es krim kesukaanmu.” Tangannya menyodorkanku sebungkus es krim coklat kesukaanku.

                Aku tersenyum dan menerimanya.

                “duuh, lahap bener makannya! Tuh, sampai belepotan!” refleks tangannya membersihkan es krim yang menempel di sekitar mulutku.

                Aku hanya tertawa membalasnya. Haha.

                “hey, aku merindukanmu bocah. Lama sekali kita tak pernah seperti ini.” Katanya sambil mengacak-acak ujung rambutku.

                Terkadang aku tak sadar, ada desiran aneh dalam dadaku ketika ia memperlakukanku seperti ini, ketika ia berbicara penuh sayang padaku. Tapi harus ku tepis jauh-jauh perasaan aneh itu diantara kami. Karena aku tahu, aku menyayanginya hanya sebatas kakak-adik, begitu juga dengannya.

                “aku juga merindukanmu, kakak kece.” Jawabku sekenanya.

                Dia menoleh padaku, “kece? Sejak kapan kamu memanggilku begitu?”

                “sejak.... tadi! Hehe.” ejekku padanya.

                Dia hanya tertawa sambil mengacak poni depanku kembali. Ah, ku harap kelak jika ia sudah menjadi mahasiswa, ia tidak melupakan semuanya, termasuk tidak melupakan aku, yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.

                Malam ini aku habiskan penuh bersama Kak Yuki. Kebersamaan yang sangat kami rindukan.

                Matahari menampakkan sinarnya kembali. Aku menggeliat kecil di kasur empukku ini. Rasanya malas sekali beranjak dari tempat empuk ini.

                Aku berjalan menuju kamar mandi masih dengan gentayangan. Semalam aku begadang dengan Kak Yuki menonton film sampai jam 3 subuh tadi. Sial memang, aku hanya tidur dua jam saja. Hoaam.

                Akhirnya, nyawaku telah terkumpul semua. Semangatku kembali membara. Tepat pukul setengah 7 aku mulai melangkahkan kakiku ini menuju sekolah.

                Sambil ku sunggingkan pelangi terbalikku pada lalu lalang orang sekitar.

                Setibanya di sekolahku, sebuah suara berat memanggilku.

                “Kenza?”

                Aku menoleh pada sumber suara itu, dan tepat di depanku, sepasang mata itu mengarah padaku.
                “di panggil Bu Dera di ruangannya.” Ucapnya dingin.

                Aku hanya mengangguk mengerti dan segera melangkahkan kaki menuju ruang guru.

                Dia kenapa? Mengapa bicaranya dingin sekali tadi? Ah, mungkin sedang ada masalah. Tunggu, sifatnya memang seperti itu, bukan? Sudahlah, tak perlu dipusingkan.

                Sepagi ini indah sekali rasanya, aku bertemu dengannya kembali. Dunia memang  sulit di tebak, terkadang hal yang kita harapkan tak urung datangm namun hal yang tak kita harapkan tiba-tiba saja datang sendrinya.
continue

Selasa, 18 Desember 2012

secret admirer/2 (cerbung)

               Tunggu, aku seperti mengenal gadis itu. bukankah dia Audy? Anak X6 juga? Dan ku dengar Audy itu teman SMP-nya dahulu. Ah, iya! Mengapa aku terlalu was-was terhadap kedekatan mereka? toh mereka hanya sekedar berteman.

                Ku lanjutkan langkah mungilku menuju rumah tercinta, rumah yang di dalamnya terdapat orang-orang yang selalu menyayangiku dan aku sayangi pula. Tidak sabar hari ini bunda masak apa. Hm.

                Sedang asyiknya langkahku berjalan, tiba-tiba sesuatu menabrakku dari belakang. Aku tersungkur jatuh kedepan.

                “apa kamu baik-baik saja?”

                Aku menoleh pada suara itu. suara yang untuk pertama kalinya aku dengar. Aku terkejut melihat sosok itu. hey, itu.. itu..

                “hei? Apa kamu baik-baik saja?”

                Ulangnya sekali lagi sambil menepuk bahuku. Getaran aneh itu muncul kembali. Gemuruh hatiku berdegup kencang. Aku tersadar dari keterjutanku melihatnya.

                Aku hanya mengangguk kecil dan mencoba berdiri.

                “maaf yah, sepedaku gak ada remnya.”

                Sekali lagi aku mendengar suara merdu itu, suara yang keluar dari bibir indahnya.

                “tidak apa-apa.”

                Aku melanjutkan perjalanan pulangku kembali, dan...

                “hei, boleh aku antar?”

                Deg! Jantungku? jantungku seperti ingin berlarian kesana kemari. aku tak dapat mengontrol nadiku kali ini.

                Seperti ada yg menggelitik di dalam perutku sana, Ya Tuhan, apakah jatuh cinta bisa membuat orang mati berdiri?

                “tidak usah, aku tak apa.”

                Sambil tersenyum aku mencoba menetralisirkan aliran darahku kembali.

                “tak apa, ini sebagai permintaan maafku, yah meski aku hanya menggunakan sepeda.” Katanya sambil menunduk rendah kepalanya.

                “hm, baiklah jika kamu memaksa.”

                Ada perasaan senang sekaligus risih kurasakan saat ini. Haruskah aku terima tawarannya?

                “bagaimana jika kita berjalan saja? Aku takut bunda marah melihat aku berboncengan dengan laki-laki.”

                Ak mencoba menjelaskan sekenanya. Ku harap dia mengerti.

                “baiklah, kalau itu maumu. Ayo!”

                Sungguh, kali ini aku merasa beruntung sekali. aku dapat melihat senyum manisnya dari jarak sedekat ini. Aku mampu menangkap sorot bola matanya yang hitam itu. ini seperti mimpi, tapi ini kenyataan.

                Kami berjalan beriringan dengan diam. Entah apa yang kami pikirkan masing-masing. Dia terlihat lebih tampan jika sedang diam seperti ini. Aku bisa gila lama-lama di dekatnya.

                “kamu, Kenza, bukan?”

                Dari mana dia tahu namaku? Apakah dia tahu aku sering memperhatikannya? Apa mungkin?

                “tahu dari mana?”

                Ku jawab agak gugup. Takut dia melihat pipiku telah bersemu merah. Aku sungguh malu sekali.

                “tak perlu kamu tahui itu.”

                Apa-apaan dia ini? Mengapa seperti sedang berbicara serius sekali. memangnya sebegitu tak boleh tahukah aku? Cih.

                Diam. Hening. Tanpa suara antara kami kembali, saling menatap jalanan lurus di depan. Tak sengaja mata kami bertemu, ada semburat hangat di dalam bola mata itu. entah perasaan itu muncul kembali padaku. Tidak bisakah hati ini berkompromi sebentar? Ugh!

                Aku hendak memanggil namanya namun ia mendahuluiku.

                “Dewangga. Panggil Angga saja.”

                Hih, sok sekali anak ini. Aku juga sudah tahu namanya tanpa ia sebutkan tadi.

                “sampai sini saja. Terimakasih.”

                Akhirnya aku sampai juga di depan jalan menuju rumahku. Ku suruh dia pulang saja agar tidak mengantarku sampai depan rumah.

                Segera mungkin aku melangkahkan kakiku cepat darinya. Cukup selama perjalanan tadi jantungku dibuat berlari maraton tak tentu.

                “terimakasih, Kenza!”

                Dia meneriakkan namaku? Hey?! Aku tak salah mendengar, bukan? Seperti bermekarannya bunga sakura, hatiku juga ikut bermekaran di dalam sana.

                Aku berlari melepas bahagiaku hari ini. Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya sekarang. Haha.

                Sore berlalu, bulan menampakkan kilaunya di langit indah sana. Bintang bertaburan menemani sang bulan.

                “hey, sedang apa disini?”

                Siapa itu? suara siapa? Aku seperti pernah mendengarnya.

                Siapa dia? Apa mungkin itu....
continue

Minggu, 16 Desember 2012

Secret Admirer (cerbung)


Hari ini aku melihatnya lagi. Seseorang yang aku kagumi selama hampir setahun ini. Aku tak tidak mengerti dengan perasaanku ini, terkadang aku menjadi gila bila bertemu dengannya. Meski ada banyak sekali jurang diantara kami. Yah, aku akui itu. 

               Seperti biasa pagi ini ku lakukan aktivitasku sebagai murid SMA. Ku langkahkan kakkiku menuju gedung sekolahku. Cukup menyita waktu memang. Tapi aku suka cara ini, aku suka tiap langkah pagiku menuju gedung menimba ilmu itu.

                Aku pikir, dengan berjalan kaki itu akan mudah bersikap sosial terhadap oang lain, mudah untuk menyunggingkan sebuah pelangi terbalik di setiap bibir orang yang berlalu lalang. Ya, memang itu kenyataanya. Aku mendapatkan itu!

                Terasa sepi sekali sekolahku ini, jam masih menunjukkan pukul setengah 7 tepat. Mungkin kali ini aku yang akan menjadi orang pertama yg datang di kelasku. Hehe.

                Tak butuh waktu lama untuk sampai di kelasku, kini aku sudah berada di ambang pintu kelas X-7 ini. Keheningan bisa kursakan dari luar ruangan ini. Ternyata dugaanku salah. Aku tidak menjadi yg pertama, melainkan yang kedua. Salah seorang temanku -Denny- telah sampai terlebih dahulu.

                Aku berdecak kesal. Namun, yah biarkanlah. Toh, aku juga sudah termasuk rajin berangkat jam segini.
                Bosan didalam ruang kelas, aku mencoba keluar memandang ruang kelas lain dari bawah. Yah, kelasku memang berada di lantai 2 sekolah ini. Sebenarnya aku tidak menyukai ini, karena turun-tangga itu membuat kakiku pegal-pegal. Namun, disisi itu, aku juga mendapat nilai positifnya, dari atas sini aku mampu melihatnya –maksudku kelasnya-.

                Pandanganku terlalu tajam memperhatikan ruang kelas laki-laki itu.hingga tak sadar seseorang mengagetkanku dari belakang. Sontak aku terlonjak kaget.
                Huuuu! Si Candra ini emang sukanya bikin jantung orang copot aja.

                Tak terasa olehku, akhirnya bel istirahatpun berbunyi. Tujuan pertama pasti ke kantin, tapi tidak untuk kali ini. Aku harus mengembalikkan buku perpus dulu. Saat ku injakkan kakiku disana, aku melihat sosok itu, sosok yang beberapa hari ini tak terlihat oleh mataku.

                Ku lihat dia sedang mengembalikkan buku juga. Benarkah ini? Aku tak salah melihat, bukan?

                Kali ini kau beruntung, Kenza! Yeah! Gemuruh dihatiku tak dapat ku bendung lagi. Aku suka melihatnya, aku suka melihat cara ia berjalan, aku suka, dan aku suka apa yang dia lakukan.

                Hey, coba lihat apa yang barusan aku lihat! Dia tersenyum! Sungguh itu menjadi pertama kalinya bagiku melihat sosoknya tersenyum manis sekali. Sayangnya, manis itu bukan untukku. Sial.

                Hey, tunggu! Tunggu! Kemana dia? Cepat sekali menghilangnya. Ah! Rupanya dia sudah keluar.
                Lihat! Aku menemukannya lagi. Dia sedang menuruni anak tangga! Aku menatapnya sekilas dan ku dapati dia tengah tertawa dan, tunggu! Mata kami saling bertemu! Ya! Jantungku, jantungku hampir ingin berhenti berdetak sekarang, Tuhan, skip momen ini...

                Hari ini, duniaku begitu indah. Mampu memberikan warna pada dunia sekitarku. Aku bersyukur itu!
                Akhirnya, pelajaran hari ini selelsai juga. Aku bergegas menuruni anak tangga dan kembali pulang. Samar-samar aku melihat sosok itu, tapi kini ia berdua dengan seorang perempuan? Siapa dia? Dan kenapa mereka begitu akrab sekali...

                Seperti di bom ribuan peluru, aku merasakan ada yang aneh dalam hati ini, bahkan untuk bernafas terasa sesak sekali. apa mungkin aku...?

                Aku melewati dua pasang itu yang ku tangkap dengan lensa mataku tengah mengobrol asyik. Siapa dia? Apa mungkin....

continue

Jumat, 07 Desember 2012

Aku merindukanmu...

malam ini ku luangkan sedikit waktuku untuk berdua dengan benda kesayanganku satu ini. entah apa yang akan aku tukiskan nanti. ini tahun pertamaku di SMA sepopuler di Kotaku tercinta. ya, ku pikir di sekolah baruku ini aku akan mengimprove kemampuan mimpiku nanti. butuh perjuangan bisa sampai sini, semula aku hanya bermimpi bisa menjadi bagian sekolah ini, tekadku sudah bulat untuk melanjutkan belajarku disini. namun, ketika sebuah persahabatan merayap hati hingga mendarah daging, perpisahan seperti gemuruh petir meyambar. ku dengar sahabatku akan melanjutkan belajarnya di sebuah pesantren, sejujurnya aku tak berminat dengan hal itu, namun suatu ketika saudaraku menawari tes seleksi masuk pesantren itu. hmm, menurutku apa salahnya mencoba?
akhirnya aku menyetujui untuk mengikuti tes tersebut. tak kuduga sebelumnya, ternyata aku lolos dan masuk pesantren itu. dalam hati berkecamuk perasaan bahagia juga bimbang.
aku bimbang, bagaimana dengan SMA yg selama ini aku inginkan? apakah aku harus merelakannya?
akhirnya aku putuskan untuk merelakan impian sekolah duluku.
aku juga sedikit senang bisa diperbolehkan masuk pesantren, bisa terus bersama-sama dengan sahabatku.

semua berkas-berkas sudah ku siapkan, tinggal mengirimnya ke pesantren tersebut, namun, saat itu orang tuaku berubah pikiran, mereka tak mengizinkanku pesantren, denga alsan yang bermacam-macam.
seperti di bom, hatiku terasa sesak mendengar hal itu,

dan akhirnya aku menuruti semua keingina mama, aku mencoba mendaftar di SMA yang dahulu pernah aku idanm-idamkan.
dan ternyata, nasib berkata iya untukku!
aku diterima di sekolah ini.
aku hadiahkan ini untuk mama, mama yang selalu ada untukku. mama yang setiap saat bekerja keras untuk aku, anaknya.

hari berikutnya aku menjalani semua dengan orang-orang baru disekitarku, hanya beberapa dari SMP yang sama denganku.
sepi. ya, karena aku belum mengenal mereka.

tersadar, kini aku dan sahabatku terlampaui oleh jarak yg begitu jauh. terkadang hanya buliran bening yg mampu menjelaskan perasaanku.

heey, aku merindukan kalian semuaa, apakah juga dengan kaliaaan?

Jumat, 02 November 2012

Saat Cinta Tak Terbalas


Saat cinta tak terbalas..
hati terasa berhenti berdetak..
aliran darah mulai menghentikan aktivitasnya..
bahkan untuk bernafas pun rasanya sulit sekali..

Saat cinta tak terbalas..
ingin rasanya aku pergi menghilang dari hidupmu
membuang milyaran kenangan kita yang lalu
menguburnya dalam, jauh dilubuk hati sana

Saat cinta tak terbalas..
amarah sering kali datang menerjang
rasanya ingin sekali meluapkan itu dihadapannya
agar dia tahu isi hatiku

Saat cinta tak terbalas..
aku tahu Tuhan mengirim orang lain untuknya
aku tahu ini kebaikan Tuhan untukku
aku tahu seseorang di belahan dunia sana pasti menungguku

Saat cinta tak terbalas..
setidaknya aku sempat mengenalnya
setidaknya aku dan dia merangkai satu kebersamaan
kebersamaan yang terukir dalam sebuah kenangan manis.
                                                                                                      Tegal, 2 November 2012
Di malam dimana aku mengenangmu kakak
                                                                                                  Gita apriani Nur Arofah