Tunggu, aku seperti mengenal gadis itu. bukankah dia Audy? Anak
X6 juga? Dan ku dengar Audy itu teman SMP-nya dahulu. Ah, iya! Mengapa aku
terlalu was-was terhadap kedekatan mereka? toh mereka hanya sekedar berteman.
Ku lanjutkan
langkah mungilku menuju rumah tercinta, rumah yang di dalamnya terdapat
orang-orang yang selalu menyayangiku dan aku sayangi pula. Tidak sabar hari ini
bunda masak apa. Hm.
Sedang asyiknya
langkahku berjalan, tiba-tiba sesuatu menabrakku dari belakang. Aku tersungkur
jatuh kedepan.
“apa
kamu baik-baik saja?”
Aku menoleh
pada suara itu. suara yang untuk pertama kalinya aku dengar. Aku terkejut
melihat sosok itu. hey, itu.. itu..
“hei? Apa
kamu baik-baik saja?”
Ulangnya
sekali lagi sambil menepuk bahuku. Getaran aneh itu muncul kembali. Gemuruh hatiku
berdegup kencang. Aku tersadar dari keterjutanku melihatnya.
Aku hanya
mengangguk kecil dan mencoba berdiri.
“maaf
yah, sepedaku gak ada remnya.”
Sekali lagi
aku mendengar suara merdu itu, suara yang keluar dari bibir indahnya.
“tidak
apa-apa.”
Aku
melanjutkan perjalanan pulangku kembali, dan...
“hei,
boleh aku antar?”
Deg! Jantungku? jantungku seperti ingin berlarian kesana kemari. aku tak dapat mengontrol nadiku kali ini.
Seperti
ada yg menggelitik di dalam perutku sana, Ya Tuhan, apakah jatuh cinta bisa
membuat orang mati berdiri?
“tidak
usah, aku tak apa.”
Sambil tersenyum
aku mencoba menetralisirkan aliran darahku kembali.
“tak
apa, ini sebagai permintaan maafku, yah meski aku hanya menggunakan sepeda.” Katanya
sambil menunduk rendah kepalanya.
“hm,
baiklah jika kamu memaksa.”
Ada perasaan
senang sekaligus risih kurasakan saat ini. Haruskah aku terima tawarannya?
“bagaimana
jika kita berjalan saja? Aku takut bunda marah melihat aku berboncengan dengan
laki-laki.”
Ak mencoba
menjelaskan sekenanya. Ku harap dia mengerti.
“baiklah,
kalau itu maumu. Ayo!”
Sungguh,
kali ini aku merasa beruntung sekali. aku dapat melihat senyum manisnya dari
jarak sedekat ini. Aku mampu menangkap sorot bola matanya yang hitam itu. ini
seperti mimpi, tapi ini kenyataan.
Kami berjalan
beriringan dengan diam. Entah apa yang kami pikirkan masing-masing. Dia terlihat
lebih tampan jika sedang diam seperti ini. Aku bisa gila lama-lama di dekatnya.
“kamu, Kenza,
bukan?”
Dari mana
dia tahu namaku? Apakah dia tahu aku sering memperhatikannya? Apa mungkin?
“tahu
dari mana?”
Ku jawab
agak gugup. Takut dia melihat pipiku telah bersemu merah. Aku sungguh malu sekali.
“tak
perlu kamu tahui itu.”
Apa-apaan
dia ini? Mengapa seperti sedang berbicara serius sekali. memangnya sebegitu tak
boleh tahukah aku? Cih.
Diam. Hening.
Tanpa suara antara kami kembali, saling menatap jalanan lurus di depan. Tak sengaja
mata kami bertemu, ada semburat hangat di dalam bola mata itu. entah perasaan
itu muncul kembali padaku. Tidak bisakah hati ini berkompromi sebentar? Ugh!
Aku hendak
memanggil namanya namun ia mendahuluiku.
“Dewangga.
Panggil Angga saja.”
Hih,
sok sekali anak ini. Aku juga sudah tahu namanya tanpa ia sebutkan tadi.
“sampai
sini saja. Terimakasih.”
Akhirnya
aku sampai juga di depan jalan menuju rumahku. Ku suruh dia pulang saja agar
tidak mengantarku sampai depan rumah.
Segera mungkin
aku melangkahkan kakiku cepat darinya. Cukup selama perjalanan tadi jantungku
dibuat berlari maraton tak tentu.
“terimakasih,
Kenza!”
Dia meneriakkan
namaku? Hey?! Aku tak salah mendengar, bukan? Seperti bermekarannya bunga
sakura, hatiku juga ikut bermekaran di dalam sana.
Aku berlari
melepas bahagiaku hari ini. Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya
sekarang. Haha.
Sore berlalu,
bulan menampakkan kilaunya di langit indah sana. Bintang bertaburan menemani
sang bulan.
“hey,
sedang apa disini?”
Siapa itu?
suara siapa? Aku seperti pernah mendengarnya.
Siapa dia?
Apa mungkin itu....
continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar