Selasa, 18 Desember 2012

secret admirer/2 (cerbung)

               Tunggu, aku seperti mengenal gadis itu. bukankah dia Audy? Anak X6 juga? Dan ku dengar Audy itu teman SMP-nya dahulu. Ah, iya! Mengapa aku terlalu was-was terhadap kedekatan mereka? toh mereka hanya sekedar berteman.

                Ku lanjutkan langkah mungilku menuju rumah tercinta, rumah yang di dalamnya terdapat orang-orang yang selalu menyayangiku dan aku sayangi pula. Tidak sabar hari ini bunda masak apa. Hm.

                Sedang asyiknya langkahku berjalan, tiba-tiba sesuatu menabrakku dari belakang. Aku tersungkur jatuh kedepan.

                “apa kamu baik-baik saja?”

                Aku menoleh pada suara itu. suara yang untuk pertama kalinya aku dengar. Aku terkejut melihat sosok itu. hey, itu.. itu..

                “hei? Apa kamu baik-baik saja?”

                Ulangnya sekali lagi sambil menepuk bahuku. Getaran aneh itu muncul kembali. Gemuruh hatiku berdegup kencang. Aku tersadar dari keterjutanku melihatnya.

                Aku hanya mengangguk kecil dan mencoba berdiri.

                “maaf yah, sepedaku gak ada remnya.”

                Sekali lagi aku mendengar suara merdu itu, suara yang keluar dari bibir indahnya.

                “tidak apa-apa.”

                Aku melanjutkan perjalanan pulangku kembali, dan...

                “hei, boleh aku antar?”

                Deg! Jantungku? jantungku seperti ingin berlarian kesana kemari. aku tak dapat mengontrol nadiku kali ini.

                Seperti ada yg menggelitik di dalam perutku sana, Ya Tuhan, apakah jatuh cinta bisa membuat orang mati berdiri?

                “tidak usah, aku tak apa.”

                Sambil tersenyum aku mencoba menetralisirkan aliran darahku kembali.

                “tak apa, ini sebagai permintaan maafku, yah meski aku hanya menggunakan sepeda.” Katanya sambil menunduk rendah kepalanya.

                “hm, baiklah jika kamu memaksa.”

                Ada perasaan senang sekaligus risih kurasakan saat ini. Haruskah aku terima tawarannya?

                “bagaimana jika kita berjalan saja? Aku takut bunda marah melihat aku berboncengan dengan laki-laki.”

                Ak mencoba menjelaskan sekenanya. Ku harap dia mengerti.

                “baiklah, kalau itu maumu. Ayo!”

                Sungguh, kali ini aku merasa beruntung sekali. aku dapat melihat senyum manisnya dari jarak sedekat ini. Aku mampu menangkap sorot bola matanya yang hitam itu. ini seperti mimpi, tapi ini kenyataan.

                Kami berjalan beriringan dengan diam. Entah apa yang kami pikirkan masing-masing. Dia terlihat lebih tampan jika sedang diam seperti ini. Aku bisa gila lama-lama di dekatnya.

                “kamu, Kenza, bukan?”

                Dari mana dia tahu namaku? Apakah dia tahu aku sering memperhatikannya? Apa mungkin?

                “tahu dari mana?”

                Ku jawab agak gugup. Takut dia melihat pipiku telah bersemu merah. Aku sungguh malu sekali.

                “tak perlu kamu tahui itu.”

                Apa-apaan dia ini? Mengapa seperti sedang berbicara serius sekali. memangnya sebegitu tak boleh tahukah aku? Cih.

                Diam. Hening. Tanpa suara antara kami kembali, saling menatap jalanan lurus di depan. Tak sengaja mata kami bertemu, ada semburat hangat di dalam bola mata itu. entah perasaan itu muncul kembali padaku. Tidak bisakah hati ini berkompromi sebentar? Ugh!

                Aku hendak memanggil namanya namun ia mendahuluiku.

                “Dewangga. Panggil Angga saja.”

                Hih, sok sekali anak ini. Aku juga sudah tahu namanya tanpa ia sebutkan tadi.

                “sampai sini saja. Terimakasih.”

                Akhirnya aku sampai juga di depan jalan menuju rumahku. Ku suruh dia pulang saja agar tidak mengantarku sampai depan rumah.

                Segera mungkin aku melangkahkan kakiku cepat darinya. Cukup selama perjalanan tadi jantungku dibuat berlari maraton tak tentu.

                “terimakasih, Kenza!”

                Dia meneriakkan namaku? Hey?! Aku tak salah mendengar, bukan? Seperti bermekarannya bunga sakura, hatiku juga ikut bermekaran di dalam sana.

                Aku berlari melepas bahagiaku hari ini. Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya sekarang. Haha.

                Sore berlalu, bulan menampakkan kilaunya di langit indah sana. Bintang bertaburan menemani sang bulan.

                “hey, sedang apa disini?”

                Siapa itu? suara siapa? Aku seperti pernah mendengarnya.

                Siapa dia? Apa mungkin itu....
continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar