Ini bukan kali pertama aku melewatinya,
Bukan kali pertama tahu rasanya beradu dengan jarak,
Harusnya akan lebih mudah tapi ku rasa tidak.
Entah mengapa rasanya terlalu berat kali ini,
Bukan berarti aku menyerah,
Hanya saja segala tentangmu masih terasa baru kemarin.
Aku tahu, jarak akan menguatkan,
Jarak akan saling mendewasakan,
Tapi rasa-rasanya jarak kali ini perlu adaptasi lebih lama.
Mungkin rindu kali ini akan cepat menumpuk,
biasanya aku bisa menatapmu sedekat nadi,
tapi kali ini hanya sebatas suara di sebrang sana.
Jalanan ramai, tapi bagiku hampa tanpamu,
tidak ada obrolan seru lagi sepanjang jalan,
tidak ada karoke gratis sepanjang perjalanan,
Hening.
Hanya ada suara angin dan kendaraan lain di telingaku,
serta pandangan yang hanya lurus ke depan sampai tujuan.
Tapi, aku selalu percaya,
bahwa apa yang tengah kita hadapi,
akan menemui ujungnya.
Tidak ada menunggu yang sia-sia,
kecuali hanya menyiksa rasa.
Selamat berSabtu malam di sana.
Aku rindu.
Neptunes World
Perempuan milikmu
Sabtu, 09 Maret 2019
Selasa, 06 November 2018
Hai.
Hai.
Kita bertemu lagi.
Di persimpangan jalan menuju rumah.
Kau menyapa dan ku balas sapamu.
Sederhana.
Bertemu dengan orang yang sama kedua kalinya.
Bertatap dengan jarak sedekat itu lagi.
Berbincang sepanjang jalan menuju rumah dengannya.
Indah.
Baru aku mengerti, kesalahanku setahun lalu.
Berjalan menjauh dari kakimu menetap.
Memberi jarak yang tadinya sedekat nadi.
Aku, yang lakukan sendiri.
Ada yang ingin mendekat lagi setelah sore itu.
Aku pun tahu, itu aku.
Menepiskan ego, menyingkirkan gengsi diri,
aku beranikan diri untuk semakin mendekat.
Terimakasih, berkatmu, aku tahu bagaimana harus
memperjuangkanmu.
Terimakasih, berkatmu, aku tahu meninggikan gengsi
hanya akan mempersulit keadaan diri sendiri.
Terimakasih, untuk yang sekarang selalu menemaniku
berjalan pulang.
Untuk yang sekarang sedang menyiapkan dirinya untuk satu langkah lebih maju,
aku mencintaimu, Pan.
Kita bertemu lagi.
Di persimpangan jalan menuju rumah.
Kau menyapa dan ku balas sapamu.
Sederhana.
Bertemu dengan orang yang sama kedua kalinya.
Bertatap dengan jarak sedekat itu lagi.
Berbincang sepanjang jalan menuju rumah dengannya.
Indah.
Baru aku mengerti, kesalahanku setahun lalu.
Berjalan menjauh dari kakimu menetap.
Memberi jarak yang tadinya sedekat nadi.
Aku, yang lakukan sendiri.
Ada yang ingin mendekat lagi setelah sore itu.
Aku pun tahu, itu aku.
Menepiskan ego, menyingkirkan gengsi diri,
aku beranikan diri untuk semakin mendekat.
Terimakasih, berkatmu, aku tahu bagaimana harus
memperjuangkanmu.
Terimakasih, berkatmu, aku tahu meninggikan gengsi
hanya akan mempersulit keadaan diri sendiri.
Terimakasih, untuk yang sekarang selalu menemaniku
berjalan pulang.
Untuk yang sekarang sedang menyiapkan dirinya untuk satu langkah lebih maju,
aku mencintaimu, Pan.
Rabu, 14 Februari 2018
Tidak ada judul
aku masih ingat betul,
hari itu, kau berkata padaku,
"ingat lagu ini, lagu yang akan jadi pengiring kala kita beradu ego."
sekarang, aku tengah mendengarkan lagu itu.
mengalun pelan,
perlahan membasahi luka baru yang kemarin datang.
ingatanku benar-benar masih hangat tentangmu
rasanya belum mau beranjak dari hari yang lalu
bahkan, aku hanya ingin mencintaimu saja. itu cukup.
meski, akan ada kenyataan pahit setelah ini
tak apa, aku siap untuk segala pilu yang mungkin akan ku terima
sekalipun itu membunuh rasaku pelan-pelan
aku titipkan pada semestaku,
rasa ini, masih di sudut hati, tersimpan rapi untukmu
selalu.
kalau-kalau kau berubah pikiran.
hari itu, kau berkata padaku,
"ingat lagu ini, lagu yang akan jadi pengiring kala kita beradu ego."
sekarang, aku tengah mendengarkan lagu itu.
mengalun pelan,
perlahan membasahi luka baru yang kemarin datang.
ingatanku benar-benar masih hangat tentangmu
rasanya belum mau beranjak dari hari yang lalu
bahkan, aku hanya ingin mencintaimu saja. itu cukup.
meski, akan ada kenyataan pahit setelah ini
tak apa, aku siap untuk segala pilu yang mungkin akan ku terima
sekalipun itu membunuh rasaku pelan-pelan
aku titipkan pada semestaku,
rasa ini, masih di sudut hati, tersimpan rapi untukmu
selalu.
kalau-kalau kau berubah pikiran.
Jumat, 22 Desember 2017
Kisah Klise - Bagian Satu
Hujan di bulan ini sungguh tega padaku, katanya.
Guyuri jalanan depan tempatku meneduh tiap sore.
Guyuri satu persatu jejak langkahmu, yang makin tak kulihat
Sampai aku tak sadar, kamu memang hanya untuk singgah, bukan menetap.
Tahun yang penuh kisah.
Beberapa kisah yang usai, tepatnya.
Bukan yang selalu bisa diinginkan,
hanya menambah deretan nama bagi manusia lain.
Akhir tahun ditutup sendu oleh hujan,
tapi ku pikir tidak semua hujan melambangkan pilu.
Hujan kali ini membawa lara-lara yang tertinggal oleh manusia-manusia klise.
Kemudian, dihanyutkan, sampai hilang, dan ku harap memang hilang.
Perempuan ini tidak ingin membuat perasaan manusia lain jadi sendu,
katanya, cukup perasaanku saja yang sendu dan lara, manusia lain jangan.
Nyatanya, bahagianya pun sesederhana bulan sabit, seperti senyumnya tanpa ada luka.
Katanya, bahagiaku tanpa kata.
Ya, berjalanlah, selagi kakimu masih bisa untuk menjauh dari mataku
Bila perlu, berlariah sejauh kakimu mampu,
Menghilanglah lebih lama dari semestaku.
Aku hanya tidak ingin, lara-lara atas kisah klise kembali setelah hanyut oleh hujan Desember.
Guyuri jalanan depan tempatku meneduh tiap sore.
Guyuri satu persatu jejak langkahmu, yang makin tak kulihat
Sampai aku tak sadar, kamu memang hanya untuk singgah, bukan menetap.
Tahun yang penuh kisah.
Beberapa kisah yang usai, tepatnya.
Bukan yang selalu bisa diinginkan,
hanya menambah deretan nama bagi manusia lain.
Akhir tahun ditutup sendu oleh hujan,
tapi ku pikir tidak semua hujan melambangkan pilu.
Hujan kali ini membawa lara-lara yang tertinggal oleh manusia-manusia klise.
Kemudian, dihanyutkan, sampai hilang, dan ku harap memang hilang.
Perempuan ini tidak ingin membuat perasaan manusia lain jadi sendu,
katanya, cukup perasaanku saja yang sendu dan lara, manusia lain jangan.
Nyatanya, bahagianya pun sesederhana bulan sabit, seperti senyumnya tanpa ada luka.
Katanya, bahagiaku tanpa kata.
Ya, berjalanlah, selagi kakimu masih bisa untuk menjauh dari mataku
Bila perlu, berlariah sejauh kakimu mampu,
Menghilanglah lebih lama dari semestaku.
Aku hanya tidak ingin, lara-lara atas kisah klise kembali setelah hanyut oleh hujan Desember.
Salam si penikmat alasan klise dini hari
Selasa, 05 September 2017
Turning Back Time
Ku rasa aku telah salah jalan kali ini.
Aku menemukan persimpangan kembali,
namun aku salah memilih kemana aku harus berbelok.
Penjelasan dariku mungkin tidak akan cukup.
Terkadang, aku menyesali apa yang telah ku lakukan dengan mudahnya.
Bisa tidak, hari itu aku ulang?
Bisa tidak hari ini aku mencoba kembali,
Iya, mencoba untuk menata hati kembali.
Mencoba untuk mengumpulkan serakan hati yang berceceran.
Aku sudah terlalu jauh berjalan menujumu,
Tapi sekarang, kamu semakin jauh.
Makin makin aku harus berlari lagi.
Entah, diam ini akan berujung dimana.
Atau mungkin tidak ada lagi kata yang bisa terucap.
Aku menyerah.
Tapi aku rindu.
Aku rindu lawakan-lawakanmu.
Sangat rindu, kali ini.
Rasanya ada yang ingin sekali bertemu.
Tapi lutut ini tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak di hadapannya.
Tapi aku rindu.
Aku rindu lawakan-lawakanmu.
Sangat rindu, kali ini.
Rasanya ada yang ingin sekali bertemu.
Tapi lutut ini tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak di hadapannya.
Bisakah?
Salah sepertinya mengenal seseorang yang lambat laun mengambil hatimu.
Tidak, tidak, aku tidak perlu menyalahkan siapapun.
Semua sudah sesuai rencana-Nya.
Iya. Aku bertemu denganmu, saling mengenal dan faktanya kita memang teman.
Tidak pernah lebih dari itu.
Meskipun banyak ku dengar orang diluar sana meneriaki ku, "teman diantara laki-laki dan perempuan adalah minim, bisa aja lo yang baper, atau dianya yang baper."
Seperti tertampar ketika mengulang-ulang kalimat itu.
Ada banyak alasan, harusnya, kita bisa bersama, tapi entah, keadaan tidak mendukung hal itu.
Yang akan aku sedihkan nanti, iya, nanti bila terjadi,
Ketika dia bertemu dengan orang baru kembali, dia mulai mengerti arti nyaman, dan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya adalah bohong.
Kemudian mereka bersama, tanpa memedulikan siapapun.
Jadi, mengikhlaskan adalah sesuatu yang butuh ekstra waktu yang panjang.
Butuh waktu untuk tidak menengok kembali ke belakang.
Dan untuk kamu yang sudah berbahagia, selamat atas dia yang mampu memberikan nyaman lebih dari apapun,
Salah sepertinya mengenal seseorang yang lambat laun mengambil hatimu.
Tidak, tidak, aku tidak perlu menyalahkan siapapun.
Semua sudah sesuai rencana-Nya.
Iya. Aku bertemu denganmu, saling mengenal dan faktanya kita memang teman.
Tidak pernah lebih dari itu.
Meskipun banyak ku dengar orang diluar sana meneriaki ku, "teman diantara laki-laki dan perempuan adalah minim, bisa aja lo yang baper, atau dianya yang baper."
Seperti tertampar ketika mengulang-ulang kalimat itu.
Ada banyak alasan, harusnya, kita bisa bersama, tapi entah, keadaan tidak mendukung hal itu.
Yang akan aku sedihkan nanti, iya, nanti bila terjadi,
Ketika dia bertemu dengan orang baru kembali, dia mulai mengerti arti nyaman, dan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya adalah bohong.
Kemudian mereka bersama, tanpa memedulikan siapapun.
Jadi, mengikhlaskan adalah sesuatu yang butuh ekstra waktu yang panjang.
Butuh waktu untuk tidak menengok kembali ke belakang.
Dan untuk kamu yang sudah berbahagia, selamat atas dia yang mampu memberikan nyaman lebih dari apapun,
Minggu, 12 Maret 2017
Kisah Manusia dan Si Tulus
Ini kisah si tulus dan manusia.
kamu ingin membacanya?
Bacalah sampai selesai,
siapa tahu kamu menemukan jawaban untuk dirimu sendiri.
Bukankah hati manusia tidak bisa dipaksakan?
Manusia memang kadang lupa siapa dirinya,
hingga lupa siapa yang tulus ada didekatnya.
Sampai di garis sesal pada akhirnya,
tahu, bahwa yang tulus telah lelah untuknya.
Bukan bermaksud untuk membela si tulus,
hanya saja kadang manusia buta akan hal-hal kecil.
Si tulus ini sangat menghargai manusia.
Dimana manusia itu ingin sendiri,
dia akan menjauh perlahan-lahan.
Meski menjauh bukan hal yang sepele,
meski itu menyayat hati, tapi si tulus lakukan.
Manusia hanya berpikir untuk dirinya sendiri,
melakukan hal yang dia senangi tanpa menghiraukan kehadiran si tulus didekatnya.
Si tulus tak pernah menginginkan apa-apa,
dia hanya butuh waktu dari manusia untuknya.
waktu yang selalu dia harap-harapkan untuk dihabiskan bersama,
walaupun itu sebentar saja.
Hingga pada saatnya, si tulus mulai kelelahan,
dia berhenti untuk memahami manusia.
Berhenti untuk segalanya dari manusia,
termasuk berhenti untuk mencintai manusia.
Ada perasaan berat untuk ini,
tapi tulus sudah berada di garis lelah.
Bertahan juga tak ada artinya bagi tulus.
apalagi saling mempertahankan, dimana bagian manusia?
Si tulus perlahan menghilang dan berjalan menjauhi manusia.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Manusia?
Hari-harinya kini sendiri,
tanpa hadirnya tulus didekatnya.
Dia mulai mencari keberadaan tulus.
sampai kakinya tak bisa berjalan untuk menemukan tulus,
Berhari-hari ia mencari si tulus,
dalam hatinya, ia menyesal.
Ia telah mengabaikan satu-satunya hal yang paling berharga didekatnya.
Sampai hal itu lelah, dia masih mengabaikannya.
Dan, sekarang, tulus sudah benar-benar menghilang dari hidupnya.
Entah kemana lagi manusia harus mencarinya.
Begitu seteusnya, tulus semakin menjauh, jauh, jauh, dah jauh dari kisah manusia.
Manusia, terus mencari tulus itu dimanapun ia berada,
sampai nanti, sampai dia juga ada di garis lelah yang sama dengan tulus,
kala itu.
Kamis, 09 Februari 2017
Kepada Ombak di Laut
Kepada ombak di laut,
Aku ingin bercerita tentangnya padamu.
Kepada ombak di laut nan biru,
Dia sosok yang baru-baru ini mulai mengisi hariku.
Seperti yang kau lihat,
Dia membawaku kemari untuk menyapamu.
Sosok ini, ku rasa punya daya magnet yang kuat untukku,
hingga aku jatuh pada hatinya,
Kepada ombak di laut yang tak pernah lelah berderu,
Hari ini, di depanmu, aku menyatakan,
Aku mencintainya,
dengan segenap keterbatasanku.
Perkara dia akan membalas dengan apa,
adalah keputusanku memilihnya.
Kepada ombak di laut yang tak hentinya bernyanyi,
Bawa aku ikut bernyanyi bersamamu juga,
Bersenandung di derunya air laut ini,
akan ku bawa dia juga bersamaku
Menari diatas percikan air dengan warna biru langit.
Kepada ombak di laut,
Mungkin aku bukan perempuan yang pandai menyenangkan hatinya,
Bukan pula perempuan kekinian yang enak di pandang 'wah'
Aku, perempuan yang hanya mampu menulis sajak ini,
atau surat pendek ini untuk seseorang seperti kamu.
Kepada ombak di laut Neptunus,
terimakasih hari ini,
terimakasih, sudah menyambutku dengan pasir putih di tepian,
terimakasih, sudah mau menjadi saksi bisu percakapan kami hari ini,
Dan untuk kamu, terimakasih sudah mau berlelah sepanjang perjalanan,
bersamaku .....
Aku ingin bercerita tentangnya padamu.
Kepada ombak di laut nan biru,
Dia sosok yang baru-baru ini mulai mengisi hariku.
Seperti yang kau lihat,
Dia membawaku kemari untuk menyapamu.
Sosok ini, ku rasa punya daya magnet yang kuat untukku,
hingga aku jatuh pada hatinya,
Kepada ombak di laut yang tak pernah lelah berderu,
Hari ini, di depanmu, aku menyatakan,
Aku mencintainya,
dengan segenap keterbatasanku.
Perkara dia akan membalas dengan apa,
adalah keputusanku memilihnya.
Kepada ombak di laut yang tak hentinya bernyanyi,
Bawa aku ikut bernyanyi bersamamu juga,
Bersenandung di derunya air laut ini,
akan ku bawa dia juga bersamaku
Menari diatas percikan air dengan warna biru langit.
Kepada ombak di laut,
Mungkin aku bukan perempuan yang pandai menyenangkan hatinya,
Bukan pula perempuan kekinian yang enak di pandang 'wah'
Aku, perempuan yang hanya mampu menulis sajak ini,
atau surat pendek ini untuk seseorang seperti kamu.
Kepada ombak di laut Neptunus,
terimakasih hari ini,
terimakasih, sudah menyambutku dengan pasir putih di tepian,
terimakasih, sudah mau menjadi saksi bisu percakapan kami hari ini,
Dan untuk kamu, terimakasih sudah mau berlelah sepanjang perjalanan,
bersamaku .....
Langganan:
Postingan (Atom)