Aku menemukan persimpangan kembali,
namun aku salah memilih kemana aku harus berbelok.
Penjelasan dariku mungkin tidak akan cukup.
Terkadang, aku menyesali apa yang telah ku lakukan dengan mudahnya.
Bisa tidak, hari itu aku ulang?
Bisa tidak hari ini aku mencoba kembali,
Iya, mencoba untuk menata hati kembali.
Mencoba untuk mengumpulkan serakan hati yang berceceran.
Aku sudah terlalu jauh berjalan menujumu,
Tapi sekarang, kamu semakin jauh.
Makin makin aku harus berlari lagi.
Entah, diam ini akan berujung dimana.
Atau mungkin tidak ada lagi kata yang bisa terucap.
Aku menyerah.
Tapi aku rindu.
Aku rindu lawakan-lawakanmu.
Sangat rindu, kali ini.
Rasanya ada yang ingin sekali bertemu.
Tapi lutut ini tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak di hadapannya.
Tapi aku rindu.
Aku rindu lawakan-lawakanmu.
Sangat rindu, kali ini.
Rasanya ada yang ingin sekali bertemu.
Tapi lutut ini tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak di hadapannya.
Bisakah?
Salah sepertinya mengenal seseorang yang lambat laun mengambil hatimu.
Tidak, tidak, aku tidak perlu menyalahkan siapapun.
Semua sudah sesuai rencana-Nya.
Iya. Aku bertemu denganmu, saling mengenal dan faktanya kita memang teman.
Tidak pernah lebih dari itu.
Meskipun banyak ku dengar orang diluar sana meneriaki ku, "teman diantara laki-laki dan perempuan adalah minim, bisa aja lo yang baper, atau dianya yang baper."
Seperti tertampar ketika mengulang-ulang kalimat itu.
Ada banyak alasan, harusnya, kita bisa bersama, tapi entah, keadaan tidak mendukung hal itu.
Yang akan aku sedihkan nanti, iya, nanti bila terjadi,
Ketika dia bertemu dengan orang baru kembali, dia mulai mengerti arti nyaman, dan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya adalah bohong.
Kemudian mereka bersama, tanpa memedulikan siapapun.
Jadi, mengikhlaskan adalah sesuatu yang butuh ekstra waktu yang panjang.
Butuh waktu untuk tidak menengok kembali ke belakang.
Dan untuk kamu yang sudah berbahagia, selamat atas dia yang mampu memberikan nyaman lebih dari apapun,
Salah sepertinya mengenal seseorang yang lambat laun mengambil hatimu.
Tidak, tidak, aku tidak perlu menyalahkan siapapun.
Semua sudah sesuai rencana-Nya.
Iya. Aku bertemu denganmu, saling mengenal dan faktanya kita memang teman.
Tidak pernah lebih dari itu.
Meskipun banyak ku dengar orang diluar sana meneriaki ku, "teman diantara laki-laki dan perempuan adalah minim, bisa aja lo yang baper, atau dianya yang baper."
Seperti tertampar ketika mengulang-ulang kalimat itu.
Ada banyak alasan, harusnya, kita bisa bersama, tapi entah, keadaan tidak mendukung hal itu.
Yang akan aku sedihkan nanti, iya, nanti bila terjadi,
Ketika dia bertemu dengan orang baru kembali, dia mulai mengerti arti nyaman, dan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya adalah bohong.
Kemudian mereka bersama, tanpa memedulikan siapapun.
Jadi, mengikhlaskan adalah sesuatu yang butuh ekstra waktu yang panjang.
Butuh waktu untuk tidak menengok kembali ke belakang.
Dan untuk kamu yang sudah berbahagia, selamat atas dia yang mampu memberikan nyaman lebih dari apapun,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar