Jumat, 22 Desember 2017

Kisah Klise - Bagian Satu

Hujan di bulan ini sungguh tega padaku, katanya.
Guyuri jalanan depan tempatku meneduh tiap sore.
Guyuri satu persatu jejak langkahmu, yang makin tak kulihat
Sampai aku tak sadar, kamu memang hanya untuk singgah, bukan menetap.

Tahun yang penuh kisah.
Beberapa kisah yang usai, tepatnya.
Bukan yang selalu bisa diinginkan,
hanya menambah deretan nama bagi manusia lain.

Akhir tahun ditutup sendu oleh hujan,
tapi ku pikir tidak semua hujan melambangkan pilu.
Hujan kali ini membawa lara-lara yang tertinggal oleh manusia-manusia klise.
Kemudian, dihanyutkan, sampai hilang, dan ku harap memang hilang.

Perempuan ini tidak ingin membuat perasaan manusia lain jadi sendu,
katanya, cukup perasaanku saja yang sendu dan lara, manusia lain jangan.
Nyatanya, bahagianya pun sesederhana bulan sabit, seperti senyumnya tanpa ada luka.
Katanya, bahagiaku tanpa kata.

Ya, berjalanlah, selagi kakimu masih bisa untuk menjauh dari mataku
Bila perlu, berlariah sejauh kakimu mampu,
Menghilanglah lebih lama dari semestaku.
Aku hanya tidak ingin, lara-lara atas kisah klise kembali setelah hanyut oleh hujan Desember.

Salam si penikmat alasan klise dini hari

Selasa, 05 September 2017

Turning Back Time

Ku rasa aku telah salah jalan kali ini.
Aku menemukan persimpangan kembali,
namun aku salah memilih kemana aku harus berbelok.

Penjelasan dariku  mungkin tidak akan cukup.
Terkadang, aku menyesali apa yang telah ku lakukan dengan mudahnya.
Bisa tidak, hari itu aku ulang?

Bisa tidak hari ini aku mencoba kembali,
Iya, mencoba untuk menata hati kembali.
Mencoba untuk mengumpulkan serakan hati yang berceceran.

Aku sudah terlalu jauh berjalan menujumu,
Tapi sekarang, kamu semakin jauh.
Makin makin aku harus berlari lagi.

Entah, diam ini akan berujung dimana.
Atau mungkin tidak ada lagi kata yang bisa terucap.
Aku menyerah.

Tapi aku rindu.
Aku rindu lawakan-lawakanmu.
Sangat rindu, kali ini.

Rasanya ada yang ingin sekali bertemu.
Tapi lutut ini tak sanggup untuk sekedar berdiri tegak di hadapannya.
Bisakah?

Salah sepertinya mengenal seseorang yang lambat laun mengambil hatimu.
Tidak, tidak, aku tidak perlu menyalahkan siapapun.

Semua sudah sesuai rencana-Nya.
Iya. Aku bertemu denganmu, saling mengenal dan faktanya kita memang teman.
Tidak pernah lebih dari itu.

Meskipun banyak ku dengar orang diluar sana meneriaki ku, "teman diantara laki-laki dan perempuan adalah minim, bisa aja lo yang baper, atau dianya yang baper."
Seperti tertampar ketika mengulang-ulang kalimat itu.

Ada banyak alasan, harusnya, kita bisa bersama, tapi entah, keadaan tidak mendukung hal itu.
Yang akan aku sedihkan nanti, iya, nanti bila terjadi,
Ketika dia bertemu dengan orang baru kembali, dia mulai mengerti arti nyaman, dan semua kata-kata yang pernah keluar dari mulutnya adalah bohong.

Kemudian mereka bersama, tanpa memedulikan siapapun.
Jadi, mengikhlaskan adalah sesuatu yang butuh ekstra waktu yang panjang.
Butuh waktu untuk tidak menengok kembali ke belakang.

Dan untuk kamu yang sudah berbahagia, selamat atas dia yang mampu memberikan nyaman lebih dari apapun,


Minggu, 12 Maret 2017

Kisah Manusia dan Si Tulus

Ini kisah si tulus dan manusia.

kamu ingin membacanya?

Bacalah sampai selesai, 
siapa tahu kamu menemukan jawaban untuk dirimu sendiri.

Bukankah hati manusia tidak bisa dipaksakan?

Manusia memang kadang lupa siapa dirinya,
hingga lupa siapa yang tulus ada didekatnya.

Sampai di garis sesal pada akhirnya,
tahu, bahwa yang tulus telah lelah untuknya.

Bukan bermaksud untuk membela si tulus,
hanya saja kadang manusia buta akan hal-hal kecil.

Si tulus ini sangat menghargai manusia.

Dimana manusia itu ingin sendiri,
dia akan menjauh perlahan-lahan.

Meski menjauh bukan hal yang sepele,
meski itu menyayat hati, tapi si tulus lakukan.

Manusia hanya berpikir untuk dirinya sendiri,
melakukan hal yang dia senangi tanpa menghiraukan kehadiran si tulus didekatnya.

Si tulus tak pernah menginginkan apa-apa,
dia hanya butuh waktu dari manusia untuknya.

waktu yang selalu dia harap-harapkan untuk dihabiskan bersama,
walaupun itu sebentar saja.

Hingga pada saatnya, si tulus mulai kelelahan,
dia berhenti untuk memahami manusia.

Berhenti untuk segalanya dari manusia,
termasuk berhenti untuk mencintai manusia.

Ada perasaan berat untuk ini, 
tapi tulus sudah berada di garis lelah.

Bertahan juga tak ada artinya bagi tulus.

apalagi saling mempertahankan, dimana bagian manusia?

Si tulus perlahan menghilang dan berjalan menjauhi manusia.

Lalu bagaimana dengan manusia?

Manusia?

Hari-harinya kini sendiri, 
tanpa hadirnya tulus didekatnya.

Dia mulai mencari keberadaan tulus.
sampai kakinya tak bisa berjalan untuk menemukan tulus,

Berhari-hari ia mencari si tulus,
dalam hatinya, ia menyesal.

Ia telah mengabaikan satu-satunya hal yang paling berharga didekatnya.

Sampai hal itu lelah, dia masih mengabaikannya.

Dan, sekarang, tulus sudah benar-benar menghilang dari hidupnya.

Entah kemana lagi manusia harus mencarinya.

Begitu seteusnya, tulus semakin menjauh, jauh, jauh, dah jauh dari kisah manusia.

Manusia, terus mencari tulus itu dimanapun ia berada,
sampai nanti, sampai dia juga ada di garis lelah yang sama dengan tulus,
kala itu.

Kamis, 09 Februari 2017

Kepada Ombak di Laut

Kepada ombak di laut,
Aku ingin bercerita tentangnya padamu.

Kepada ombak di laut nan biru,
Dia sosok yang baru-baru ini mulai mengisi hariku.

Seperti yang kau lihat,
Dia membawaku kemari untuk menyapamu.

Sosok ini, ku rasa  punya daya magnet yang kuat untukku,
hingga aku jatuh pada hatinya,

Kepada ombak di laut yang tak pernah lelah berderu,
Hari ini, di depanmu, aku menyatakan,

Aku mencintainya,
dengan segenap keterbatasanku.

Perkara dia akan membalas dengan apa,
adalah keputusanku memilihnya.

Kepada ombak di laut yang tak hentinya bernyanyi,
Bawa aku ikut bernyanyi bersamamu juga,

Bersenandung di derunya air laut ini,
akan ku bawa dia juga bersamaku

Menari diatas percikan air dengan warna biru langit.

Kepada ombak di laut,
Mungkin aku bukan perempuan yang pandai menyenangkan hatinya,

Bukan pula perempuan kekinian yang enak di pandang 'wah'

Aku, perempuan yang hanya mampu menulis sajak ini,
atau surat pendek ini untuk seseorang seperti kamu.

Kepada ombak di laut Neptunus,
terimakasih hari ini,

terimakasih, sudah menyambutku dengan pasir putih di tepian,
terimakasih, sudah mau menjadi saksi bisu percakapan kami hari ini,

Dan untuk kamu, terimakasih sudah mau berlelah sepanjang perjalanan,
bersamaku .....

Senin, 06 Februari 2017

Maybe Y or Maybe N

Pertanyaan ini selalu muncul, "mulai dari mana yah?"
Banyak yang ingin ku ceritakan, tapi tidak semuanya bisa ku tulis.
Banyak yang ingin ku mintai pendapatnya, tapi tak semuanya ingin memberi.

Bagian dari suatu hubungan ini memang rumit, menurutku.
Ada banyak waktu yang harus ku bagi.
Waktu bersama dia.
Waktu bersama orang terdekatku,
Juga waktu sendiriku.

Ada sebagian orang menganggap, mengajak pasangan hang out bersama teman sendiri akan lebih asik.
Ada sebagian juga yang menganggap waktu yang dia miliki bukan seutuhnya milik berdua.
Ada pula yang lebih menyukai waktu berdua adalah lebih dari segalanya.

Entah, mana yang harus kamu gunakan sebaik mungkin.

Bagiku, menghabiskan waktu untuk bersama saja sudah menyenangkan. 
Tapi, ada banyak hal lain yang memang lebih penting dari sekedar bersama. 

Mungkin, cara yang paling mudah adalah berkata, 'ya, aku mengerti' 
Faktanya perasaan tak bisa kamu bohongi.
Dibohongi untuk berpisah dalam hari itu, 
nyatanya hatimu kerap kali berontak.

Rasa untuk selalu bersama memang sudah jadi candu bagi tiap pasangan.
Tapi, bukan berarti kemana-mana harus berjalan bersama.
Bergandengan bersama,
Meskipun hal-hal diatas sempat terbesit diotak.

Makhluk sosial seperti manusia juga butuh berinteraksi dengan orang banyak.
Tapi, terkadang ada beberapa manusia yang tak mengerti keadaan kita seperti apa.

Kesal, tapi tak tahu harus berbuat apa.
Hingga akhirnya lebih memilih berdiam diri,
Dan ujung-ujungnya jadi endapan yang lama kelamaan menumpuk.

Bagi manusia yang mengerti, beruntunglah.
Karena ku rasa mereka juga pernah ada di posisi seseorang dengan keadaan apapun.

Entah, ini tulisanku bermaksud untuk apa.
Yang jelas, mungkin ada seseorang yang kurasa mulai menyadari bahwa ada perubahan besar yang tengah terjadi diantara kami. 
Mungkin ya, mingkin tidak.

Selamat malam.......................................... 

Minggu, 29 Januari 2017

Stay or Leave?

Mengerti bukan perkara mudah bagi seseorang.
Bukan perkara 'aku bisa' ataupun 'aku gak bisa'

Memahami pasangan bukan soal cepat atau lambat.
Bukan perkara 'iya' atau 'tidak'

Kadang, sangat mudah bagi-Nya untuk membolak-balikkan hati manusia.
Apalagi manusia seperti aku.

Kadang pula, perasaan muncul bukan karena ingin,
melainkan kebetulan semata.

Aku ragu, bagaimana perasaan seorang manusia bisa bertahan dan mempertahankan?
Bagaimana cara manusia memahami dan mengerti hubungannya.

Banyak yang berakhir karena alasan bosan.
Banyak pula yang berakhir karena dirasa sudah tak cocok.

Lalu, untuk apa mereka saling bertemu dan mencinta?
Bila akhirnya berpisah dengan cara yang bukan mereka mau?

Ada banyak hal yang aku pelajari,
Bahwasannya, mencinta bukan untuk dipaksakan.

Mencinta bukan perkara aku suka kamu,
melainkan, aku mengerti kamu.

Mencinta bukan perkara aku rindu,
melainkan, aku paham kamu seperti apa.

Begitu seseorang menjelaskan padaku.

Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan,
Banyak hal yang ingin ku bagi bersama.

Tapi, rasanya sulit untuk bercerita jika sudah berhadapan.
Sulit rasanya mulut ini memulai cerita itu.

Sebagai seorang perempuan, yang kodratnya memang harus mengerti dan ingin dimengerti,
mengalah lebih baik dibanding harus memaksakan kemauan.

Terlalu kekanak-kanakan bila ada drama merengek, bukan?

Sesadar-sadarnya manusia, apalagi perempuan, 
pasti tidak menginginkan laki-lakinya menjauh karena sikapnya.

Berusaha tanpa mengeluh,
Berusaha tanpa merengek,

Berusaha, ya berusaha,
entah dimana ujungnya.

Jadi, neptunus, malam ini aku hanya ingin menanyakan mengapa manusia bisa bertahan dan mempertahankan?
Yang faktanya, aku tahu, itu tak semudah diucapkan.

Selamat tidur, Minggu malamku.