Hai,
malam.
Kali ini
aku ingin bercerita tentang sebuah penantian yang mungkin cukup berbuah manis. Ya,
mungkin ini konyol, mungkin juga ini aneh, atau apa, aku juga tak tahu.
Dulu,
masaku, putih-biru. Aku punya banyak hal yang memang indah awalnya, namun,
selalu berakhir pahit. Entah, siapa yang salah, namun, mereka berkata aku yang
salah.
Berbeda cerita
ketika aku mengenal seseorang itu, aku suka dia, iya aku suka. Kemudian kami
semakin dekat, dekat, dan dekat. Namun, menggantung. Aku menunggunya, menunggu
untuk hari-hari yang sia-sia. Hingga akhir masaku, aku justru mendapatkan
cambukan dari orang dalam sendiri, yang jelas-jelas sudah mengetahui aku
menyukainya.
Tak apa,
aku memaafkan itu, aku berusaha diam. Dari kalian, dari semua orang, hingga aku
bertemu seseorang lain dalam hariku.
Yang kurasa
saat itu, aku hanya ingin melupakan dia. Namun, aku terjebak kembali dalam rasa
yang merumitkan lagi. Aku tak mampu melepaskannya.
Dia cuek,
jutek, berandal, tapi dia malaikatku, dia penghapus luka. Sempat kami menyatu,
namun kesalahannya terulang lagi. Entah dengan alasan apalagi.
Berat hati,
aku mulai melangkah menjauhinya. Perlahan tapi pasti, aku mulai melangkah
mundur, jauh, jauh, jauh, dan sangat jauh. Namun sayang, aku belum mampu
melepas benang kenangan yang teruntai.
Aku muak
dengannya, muak dengan tingkahnya, aku mulai membencinya, mengatainya, hingga
aku tak ingin bertemu dengannya kembali.
Seragam
berganti, masa putih-abu-abuku mulai terlihat. Iya, aku masih melihatnya berada
di sekeliling duniaku.
Aku mengenal
seniorku, dia baik, seperti seorang kakak dan adik. Entah, rasa dari mana
datangnya, perlahan perasaan itu semakin nyata mengahadangku. Aku takut ini
hanya cinta sepihak.
Disisi lain,
seniorku sudah bersama dengan orang lain. Aku masih mampu tertawa menanggapi
curhatannya tentang perempuan itu. meski kadang meringis dengan sakit.
Hingga aku
bertemu dengan sosok yang mirip dengan malaikat baik itu. aku jatuh cinta lagi.
Bahagia, namun berakhir pahit kembali.
Aku mencoba
menghubungi malaikat baik itu. kami dekat kembali. Sampai akhirnya dia
memintaku untuk menjadi kekasihnya kembali.
Ya, aku
jawab iya. Aku mau jadi kekasihnya lagi asalkan dia sudah benar-benar yakin
pada cinta ini.
Hariku berwarna
kembali, seiring berjalannya waktu, aku masih kerap bercerita tentang seniorku.
Awalnya ku anggap ini cerita biasa. Namun, lambat laun aku menyadari, laki-laki
juga bisa cemburu.
Aku sadar,
cinta yang berawal dari main-main akan berjalan dengan main-main juga. Yang namanya
cinta juga gak melulu lancar, kadang banyak berantemnya.
Aku baru
sadar, seberapa besarnya malaikat baik menjaga perasaanku. Pertama kali dia
memutuskan meninggalkanku, itu hanya caranya untuk menjaga perasaanku. Dia harus
memenuhi permintaan orang lain, dia mengerti mendua bukan cara yang baik.
Aku baru
sadar, kehidupan intinya, aku terenyuh mendengar tiap ceritanya. Aku terlalu
jahat untuk memakinya. Aku ingin selalu menjaganya. Mendekap di tiap dinginnya.
Aku baru
sadar, dia sempurna diantara kekurangannya. aku suka sifatnya, penyayang. Aku suka
sifatnya yang mandiri. Suka menabung.
Aku memilihnya,
karena aku merasa beruntung berdampingan di sampingnya. Aku memilihnya karena
laki-laki lain tidak seperti dia.
Kami sering
berangan-angan, tentang masa depan kami. Aku akan menjadi ibu yang baik untuk
anak-anak kami, dan dia akan jadi ayah yang baik, yang mendidik anaknya dengan
benar.
Cinta,
tak pernah ada habisnya.
Cinta,
datangpun tiba-tiba.
Cinta,
bukan main-main.
Cinta...........
Aku mencintainya,
laki-laki yang kudambakan, Agin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar