Sepagi ini indah sekali rasanya, aku bertemu dengannya kembali. Dunia memang sulit di tebak, terkadang hal yang kita harapkan tak urung datangm namun hal yang tak kita harapkan tiba-tiba saja datang sendrinya.
Untung saja hanya membicarakan perihal acara ulang tahun
sekolahku, hm. Aku melangkahkan kakiku kembali menuju kelasku. Sekilas aku
sempat melewati komplek kelas 12. Aku mencari-cari kakak itu. Tapi tak urung
jua aku menemukannya.
“hus!”
tiba-tiba seseorang dari belakang menepuk pundakku pelan.
Aku
berbalik dan sedikit terkejut melihatnya.
“bikin
kaget.” Cetusku sambil memanyunkan bibir.
“hehe,
kamu lagi ngapain sih disini?”
“tadi
habis dari ruang guru. Ini mau balik ke kelas.” Langkah kami saling beriringan hingga
ia mengantarku sampai depan kelasku.
Di
depan kelas, tak sengaja aku berpapasan dengan Angga. Mata kami saling bertemu,
namun sorot matanya seperti biasa, memikat setiap mata yang memandanginya. Termasuk
aku.
Mataku
masih memandangi gerak langkahnya, meski kini punggungnya perlahan mulai tak
kasat oleh mataku.
“za?
Liatin apa sih? Ko bengong gitu?”
“eh, engg, engga ko.” Aku buru-buru mengalihkan pandanganku dari apa yg aku pandangi barusan.
“oke
deh. aku tinggal dulu yah. belajar yang rajin!” pesannya sambil mengusap ujung
kepalaku lembut.
Aku
hanya tersenyum membalasnya sambil ku lambaikan tangan padanya.
TRING!!
Bel
yang ku tunggu-tunggu akhirnya berbunyi. kakiku melangkah dengan semangat
berharap aku dapat bertemu dengannya kembali. Baru beberapa kakiku melangkah,
senyum di bibir manisku mengembang
sesuatu yang aku harapkan tiba-tiba sudah ada di depanku. Seperti mimpi.
“tunggu!”
sebuah suara berat menahan langkahku.
Aku
memasang muka bertanya-tanya. Dia mendekatkan langkahnya menghampiriku.
Dia
menyodorkan sebuah kertas padaku, aku menerimanya dan mulai membacanya.
“pelantikan
PMR?”
“kamu
satu kelompok denganku. besok, jam 9 pagi di rumah Sarah. Jangan telat!”
jelasnya dengan nada dingin seperti biasanya. Tanpa berkata apapun dia berbalik
dan melanjutkan langkahnya lagi.
Aku
masih terdiam dengan apa yang barusan dia jelaskan. entahlah, ku pikirkan nanti
saja.
“kenza!”
dari kejauhan samar-samar ku dengar seseorang memanggil namaku.
Ah,
rupanya Kak Yuki. Sedang apa dia disana?
“yuk,
pulang?” ajaknya dengan cengiran khasnya.
“udah,
ayo. Hari ini aku pengin pulang bareng kamu!” tanpa menunggu aku menjawabnya,
dia langsung menggandeng tanganku begitu saja.
Aku
hanya menurut saja dengan ajakkannya.
“ka? Salah gak sih kita suka
sama orang tapi dia itu cuek banget sama kita?” tanyaku di tengah perjalanan
antara aku dan Kak Yuki.
Raut wajahnya tiba-tiba saja
berubah, aku tak tahu apa yg ia akan jawab setelah ini.
“mm, engga ko, itu engga salah,
hal semacam itu justru membuat perasaan kita semakin kuat untuk dia.” Jawabnya
sambil memandang mataku lekat.
“apa kita salah juga jika kita
hanya diam memendam perasaan itu?”
Hening, diam. Kak Yuki hanya
menatapku sekilas dan memandang lurus ke depan.
“entahlah, aku juga gak tau.”
Jawabnya pasrah dan kembali melanjutkan langkah kembali pulang.
Sepanjang perjalanan tak sepatah
katapun terucap dari kami, entahlah pikiran kami sedang
kemana-mana.
“udah
sampe, masuk gih.” Suruhnya padaku dengan nada yang entah sulit di mengerti
otakku.
Ada apa
dengan kak yuki? Kok jadi aneh gitu. Aku tak menjawabnya, segera aku melangkah
masuk pintu pagar rumahku dan membiarkan Kak Yuki sendiri.
Aku lupa,
esok masih ada kegiatan lagi. Ah, tapi tak apalah, esok aku akan bertemu dengan
dia kembali.
hm, aku masih penasaran, tadi kak Yuki kenapa yah?
apa mungkin.....................
continue
Tidak ada komentar:
Posting Komentar