Jumat, 07 Oktober 2016

MEMORIES #1

        "Pin, mau makan gak?" suara berat itu menyadarkanku.
         "eh? ha? oh iya, aku juga laper, Ren." jawabku mengiyakan.

      Narendra, nama yang cukup familiar di otakku 2 tahun belakangan ini. Ya, seperti pertemanan pada umumnya. Aku mengenalnya saat kami masih berseragam putih abu-abu. Tepatnya kami satu kelas, saat menginjak kelas 2 SMA. 
       Bisa dibilang aku dekat dengannya. Sangat dekat. Meski status kami hanya sebagai teman. Tak banyak dari temanku yang meledek kedekatan kami. Mana bisa kami dibilang ‘friendzone’ sementara Rendra sudah memiliki pacar.  Dunia memang kadang lucu.

“mau makan apa, Ren?” tanyaku sambil memandang sekitar.
“emm, lagi pengen bakso nih. Pesenin satu ya! Aku ke toilet bentar.” Jawabnya buru-buru.

       Seperti biasa, kesukaannya adalah bakso, ditambah kerupuk, lalu es teh manis yang selalu menyegarkan tenggorokan. Hah, bahkan aku hampir menghafal segala kesukaan hingga kegiatannya setiap hari.

       “Pin!”
       Aku menoleh ke sumber suara itu.
      “Mas Wira? Kenapa, Mas?” sejujurnya aku gugup tiap kali Mas-mas angkatan atasku, terkhusus Mas Wira menyapaku begini.
   “Aku, ada proyek nih. Mau gabung gak?” tawarnya dengan cengiran khas seperti biasanya.
“tentang apa mas?”

     Mas Wira memperlihatkan proposal kegiatan proyek yang ia tawarkan padaku. Aku cukup tertarik karena ini menyinggung masalah sosial di lingkungan masyarakat.

     “oke, kapan mulai mas?” aku menyetujui tawaran proyek Mas Wira tanpa pikir panjang.

“nanti aku kabari secepatnya, Pin. Omong-omong kamu makan sendirian aja nih?
“oke, ah? Engga ko mas, aku sama Rendra. Tapi dia lagi ke toilet.” Jawabku.
“oke deh, aku duluan ya!” pamitnya padaku.

          Gak seperti biasanya Rendra ke toilet lama begini. Bisa keburu dingin ini baksonya.
Samar-samar aku mendengar keributan dari arah toilet dekat kantin. Rendra!

     Buru-buru aku mendekati kerumunan itu. Dan ya, aku mendapati Rendra tengah berkelahi dengan Bobi anak Teknik Mesin yang gosipnya menyukai pacar Rendra.

“stop! Rendra! Kalian apa-apaan sih?!!” aku mencoba melerai keduanya, jujur saja ini mengingatkanku pada peristiwa dua tahun lalu. Sama persis dengan apa yang terjadi di depan mataku sekarang.

Aku kehilangan keseimbanganku.

Badanku lemas, semua gelap tiba-tiba.



##########
Hai Neptunes! 
Balik lagi dengan cerita bersambungku, setelah sekian abad gak nyentuh cerbung.
Akhirnya kali ini nyempetin waktu juga. Hehe.
Happy reading gengs!
Kalo ada tanggapan/komen/saran langsung aja dikolom komen, oke?
Thank you!

1 komentar: